Cara Penulisan Sitasi dan Daftar Pustaka

Jumat, 16 Oktober 2009

Cara Penulisan Sitasi dan Referensi

Ditulis Oleh Sri Purnomowati

Artikel ini membahas perbedaan penulisan sitasi dan referensi diantara 5 buku panduan. Kesimpulan menunjukkan bahwa ada 3 sistem penulisan sitasi dan referensi, yaitu: Sistem Pengarang Tahun, Sistem Numerik, dan Catatan. Perbedaan cara penulisan sitasi terletak pada: penggunaan singkatan, simbol, istilah, dan tanda baca, sedangkan pada daftar referensi, perbedaan penulisan terletak pada: penyajian nama pengarang, urutan dan kelengkapan data bibliografi, pemberian tanda khusus pada sebagian data bibliografi, penggunaan singkatan dan tanda baca.
PENDAHULUAN
Penulisan sitasi dan daftar referensi merupakan hal yang tidak asing lagi bagi para peneliti, karena hal ini selalu dilakukan setiap kali menulis karya ilmiah. Sitasi, sitiran atau citation adalah informasi ringkas tentang dokumen yang disitir yang disisipkan dalam teks, sementara informasi selengkapnya dimuat pada daftar referensi. Adapun referensi adalah deskripsi bibliografi dari dokumen yang disitir, umumnya disusun berupa daftar yang disajikan pada akhir artikel, bab atau buku.
Mengingat seringnya dikerjakan, maka penulisan sitasi dan referensi tampaknya tidak perlu lagi dibicarakan. Tetapi pendapat ini ternyata tidak sepenuhnya benar setelah melihat hasil kajian yang dilakukan oleh Sri Purnomowati dan Yuliastuti (1997) terhadap beberapa judul terbitan dalam bentuk tinjauan literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa cara penulisan sitasi dan referensi pada beberapa judul tinjauan literatur terbitan PDII-LIPI ternyata sangat bervariasi dan belum sepenuhnya mengikuti sistem dan cara penulisan yang baku, demikian pula halnya dengan tinjauan literatur terbitan instansi lain di Indonesia. Sementara itu, tinjauan literatur terbitan asing umumnya telah mengikuti sistem penulisan yang baku, kecuali beberapa ketidaksesuaian cara penulisan pada sebagian kecil terbitan. Kesalahan yang berhasil diinventarisir antara lain adalah: pemberian nomor urut dan penggunaan tanda baca pada sitasi; susunan, urutan penempatan data bibliografis, penggunaan singkatan dan tanda baca pada daftar referensi.
Dari hasil kajian tersebut diketahui bahwa terbitan dalam satu instansi belum tentu menggunakan sistem penulisan yang seragam, bahkan ada kalanya sistem yang satu dicampur adukkan dengan sistem yang lain. Hal ini dapat dimengerti mengingat belum adanya keharusan bagi para penulis untuk mengikuti satu buku panduan tertentu. Disamping itu, buku panduan yang diperlukan belum tentu tersedia di tempat kerja. Kalaupun buku-buku panduan itu tersedia, penulis akan kesulitan memilih dari sekian banyak buku panduan yang masing-masing berbeda satu sama lain. Perbedaan sistem penulisan dalam buku panduan tersebut memang dipengaruhi oleh : maksud penggunaannya, jenis disiplin ilmu, jenis lembaga, jenis pemakai, bentuk terbitan, dan lain-lain.
Sehubungan dengan hal itu, tidak ada salahnya untuk melihat kembali sistem-sistem penulisan sitasi dan referensi yang telah ada, sambil mempelajari perbedaan cara penulisannya di berbagai buku panduan. Dengan demikian maka akan diperoleh gambaran secara garis besar tentang sistem dan cara penulisan sitasi dan referensi, sekaligus memberikan motivasi untuk mengetahui lebih dalam melalui buku-buku referensi.
Kajian ini dilakukan dengan cara memperbandingkan penerapan sistem penulisan sitasi dan referensi dari 5 buku panduan terbitan asing, yaitu: Style Manual Committee Council of Biology Editors (1994) selanjutnya disingkat CBE, The University of Chicago Press (1982), Turabian (1987), Wilkinson (1991) dan International Organization for Standardization (1988) selanjutnya disingkat ISO.

SISTEM PENULISAN
Secara garis besar, sistem penulisan sitasi dapat digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu:

1. Sistem Pengarang-Tahun (Sistem Nama-Tahun);

2. Sistem Numerik (Sistem Urutan); dan

3. Sistem Catatan. Sistem Pengarang-Tahun sering dikenal dengan nama sistem Harvard, banyak digunakan dalam penulisan di bidang ilmu biologi, fisika, ilmu sosial dan kemanusian, juga disarankan untuk penulisan di bidang ilmu pengetahuan alam. Sistem Numerik banyak digunakan dalam ilmu kedokteran dan tulisan-tulisan sejenis tinjauan literatur yang memuat banyak sitasi, sementara sistem Catatan banyak digunakan di bidang ilmu kemanusiaan. Diantara ketiga sistem tersebut, sistem Pengarang-Tahun dan sistem Numerik paling banyak dipakai dalam penulisan tinjauan literatur. Oleh karena itu, tulisan ini hanya membahas kedua sistem tersebut.

SISTEM PENGARANG-TAHUN
Ciri-ciri :
• Sitasi dalam teks dinyatakan dalam bentuk nama pengarang dan tahun terbit dokumen yang disitir yang ditempatkan di dalam tanda kurung. Antara nama pengarang dan tahun terbit dipisahkan dengan spasi atau tanda koma (bervariasi tergantung buku panduan).
• Nama pengarang pada sitasi/referensi dinyatakan dengan nama keluarga.
• Daftar referensi disusun sesuai dengan urutan abjad nama pengarang
• Urutan data bibliografi dalam referensi adalah: Nama pengarang, tahun terbit, judul, informasi lain kecuali tahun terbit.
Kelebihan
• Jika akan menambah atau menghapus referensi, penulis tidak perlu merubah keseluruhan urutan dalam daftar referensi.
• Pembaca dapat mengidentifikasi dokumen yang disitir tanpa melihat ke dalam daftar referensi.
• Tahun terbit dokumen dapat memberikan informasi yang berhubungan dengan perkembangan konsep dan metode yang sedang dibahas secara kronologis.
• Nama pengarang yang disitir tampil dalam teks.
Kelemahan
• Pada teks yang memuat banyak sitasi atau nama pengarang/lembaga yang terlalu panjang, maka panjangnya sitasi dapat mengganggu keterbacaan teks.
• Aturan pada sistem pengarang-tahun lebih rumit dibanding sistem numerik, misalnya tentang urutan sitasi, tanda baca antara sitasi, dan urutan abjad pengarang pada daftar referensi.
Cara Penyajian
Ada 2 macam cara penyajian sitasi sistem Pengarang-Tahun, yaitu :
• Nama pengarang merupakan bagian dari kalimat. Dalam hal ini, tahun terbit diletakkan di dalam tanda kurung. Contoh :
Wynken (1988) believe that………..
• Nama pengarang bukan merupakan bagian dari kalimat. Dalam hal ini, nama pengarang dan tahun terbit diletakkan di dalam tanda kurung. Contoh:
……and the most recent work (Dawson 1997) has shown a…

SISTEM NUMERIK
Ciri-ciri :
• Sitasi dalam teks dinyatakan dalam bentuk nomor (angka) yang ditempatkan di dalam tanda kurung atau di atas garis (superscript).
• Urutan nomor sitasi disusun berdasarkan urutan munculnya sitasi dalam teks.
• Daftar referensi disusun sesuai dengan nomor urut sitasi
• Urutan data bibliografi dalam referensi adalah: Nama pengarang, judul, informasi lain termasuk tahun terbit.
Kelebihan
• Keterbacaan teks tidak banyak mengalami gangguan
• Lebih praktis digunakan untuk teks yang memuat banyak sitasi dan secara terus menerus seperti tinjauan literatur.
• Menghemat ruang, kertas dan biaya.
Kekurangan
• Pembaca harus melihat daftar referensi jika ingin tahu karya siapakah yang disitir, karena sitasi dalam teks tidak memberikan informasi tentang hal itu.
• Jika penulis akan menambah atau menghapus referensi, maka keseluruhan urutan nomor referensi harus diubah.
• Nama pengarang kurang terlihat karena tidak muncul dalam teks.
Cara penyajian
• Ukuran huruf yang digunakan untuk nomor sitasi umumnya lebih kecil dari huruf pada teks.
• Nomor sitasi yang tidak berurutan dipisahkan dengan tanda koma tanpa spasi
• Nomor sitasi yang berurutan lebih dari dua nomor, cukup menuliskan nomor awal dan nomor akhir sitasi dan dipisahkan dengan tanda hubung. Jika hanya ada dua nomor, cukup dipisahkan dengan tanda koma.

CARA PENULISAN
SITASI

Perbedaan cara penulisan sitasi pada sistem Pengarang-Tahun dapat dilihat pada Tabel 1, dan perbedaan cara penulisan sitasi pada sistem Numerik dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 1
Penulisan Sitasi pada Sistem Pengarang-Tahun
Kategori Pengarang Panduan Penulisan Sitasi
1 Pengarang CBE (Smith 1986)
Chicago (Smith 1986)
Turabian (Smith 1986)
Wilkinson (Smith, 1986)
ISO (Smith, 1986)
1 Pengarang 2 karya CBE (Smith 1986, 1988)
Chicago (Smith 1986, 1988)
Turabian (Smith 1986, 1988)
Wilkinson (Smith, 1986, 1988)
1 Pengarang 2 karya tahun sama CBE (Smith 1986a, 1986b)
Chicago (Smith 1986a, 1986b)
Turabian (Smith 1986a, 1986b)
Wilkinson (Smith, 1986a, b)
2 Pengarang CBE (Smith and Dawson 1987)
Chicago (Smith and Dawson 1987)
Turabian (Smith and Dawson 1987)
Wilkinson (Smith & Dawson, 1987)
3 Pengarang CBE (Smith, Jones, and others 1990)
Chicago (Smith, Jones, and Brown 1990)
Turabian (Smith, Jones, and Brown 1990)
Wilkinson (Smith, Jones, and Brown, 1990)
ISO (Smith et al., 1987)
>3Pengarang CBE (Smith and others 1987)
Chicago (Smith et al. 1987)
Turabian (Smith et al. 1987)
Wilkinson (Smith et al., 1987)
ISO (Smith et al., 1987)
Beberapa karya CBE (Dawson and Briggs 1974; Smith 1986; Brown 1987)
Chicago (Dawson and Briggs 1974; Smith 1986; Brown 1987)
Turabian (Dawson and Briggs 1974; Smith 1986; Brown 1987)
Wilkinson (Dawson & Briggs, 1974; Smith, 1986; Brown, 1987)

Dari data-data tersebut di atas dapat diketahui bahwa perbedaan sistem penu-lisan sitasi pada sistem Pengarang-Tahun dari 5 panduan tersebut terletak pada:
• Penggunaan tanda baca (koma) diantara nama pengarang dengan tahun terbit dokumen.
• Penggunaan simbol & sebagai pengganti “and”
• Penggunaan istilah “and others” dengan “et al.”
• Penggunaan singkatan huruf untuk menuliskan 2 karya pengarang dengan tahun terbit yang sama.
Tabel 2
Penulisan Sitasi pada Sistem Numerik

Kategori Pengarang
Panduan Penulisan Sitasi
1 Karya CBE has been shown1 .....
Wilkinson has been shown1 to..
has been shown (1) to...
has been shown [1] to...
ISO has been shown (1)……
Beberapa karya CBE have been shown1,2,5,7 9...
Wilkinson studied by many workers.1,3,17
studied by many workwers (1, 3, 5).
studied by many workwers [1 10].
studied by many workwers [1] [10].

Dari data di atas terlihat bahwa penulisan sitasi dalam teks dengan sistem Numerik dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: menuliskan nomor/angka di atas garis (superscript), atau menempatkannya di dalam kurung ataupun kurung siku.

REFERENSI
Perbedaan cara penulisan referensi pada sistem Pengarang–Tahun dapat dilihat pada Tabel 3, dan perbedaan cara penulisan referensi pada sistem Numerik dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 3
Penulisan Referensi pada Sistem Pengarang-Tahun
Kategori Pengarang
Panduan Penulisan Referensi
Buku, 1 pengarang CBE Smith John Q. 1986. Urban turmoil : The politics of hope. New City: Polis. 1223 p.
Chicago Smith, John Q. 1986. Urban turmoil : The politics of hope. New City: Polis.
Turabian Smith, John Q. 1986. Urban turmoil : The politics of hope. New City: Polis.
Wilkinson Smith, John Q. 1986. Urban turmoil : The politics of hope. New City: Polis.
ISO CRANE, D. 1972. Invisible colleges. Chicago: Univ. of Chicago Press.
Buku, 2 Pengarang CBE
(Nama disingkat) Smith JQ, Galloway J. 1984. Peace in Ireland. Bos¬ton: Harper & Row. 324 p.

(Nama tdk disingkat) Smith, John Q; Galloway, Joseph. 1984. Peace in Ireland. Boston: Harper & Row.
Chicago Smith, John Q., and Joseph Galloway. 1984. Peace in Ireland. Boston: Harper & Row.
Turabian Smith, John Q., and Joseph Galloway. 1984. Peace in Ireland. Boston: Harper & Row.
Wilkinson Smith, John Q., and Joseph Galloway. 1984. Peace in Ireland. Boston: Harper & Row.
Majalah, 1 Pengarang CBE Jackson, Richard. 1979. Runing down the up escala¬tor. Australian Geographer 14 (5): 175 84.
Chicago Jackson, Richard. 1979. Runing down the up escala¬tor. Australian Geographer 14 (May): 175 84.
Turabian Jackson, Richard. 1979. Runing down the up escala¬tor. Australian Geographer 14 (May): 175 84.
Wilkinson Jackson, Richard. 1979. Runing down the up escala¬tor. Australian Geographer 14 (May): 175 84.
ISO STIEG, MF. 1981. The information needs of historians. College and Research Libraries, Nov. 1981, vol 42, no. 6, p. 549-560.
Majalah, 2 Pengarang CBE Broom R, Robinson JT. 1980. Man contemporaneous with ape man. Am J Phys Anthrop 2:36 74.
Chicago Broom, R., and J.T. Robinson. 1950. Man contempora¬neous with ape man. Am. J. Phys. Anthrop. 2:36 74.
Turabian Broom, R., and J.T. Robinson. 1950. Man contempora¬neous with ape man. Am. J. Phys. Anthrop. 2:36 74.
Wilkinson Broom, R., and J.T. Robinson. 1950. Man contempora¬neous with ape man. Am. J. Phys. Anthrop. 2:36 74.
Prosiding CBE Chave K. E. 1964. Skeletal durability and preser¬vation. In : Imbrie J, Newel N, editor. Approaches to paleoecology; 1964 Apr 13-16; Hongkong. New York: Wiley. p. 377 87.
Turabian Chave, K. E. 1964. Skeletal durability and preser¬vation. In Approaches to paleoecology in Hongkong 13 16 September 1964, edited by J. Imbrie and N. Newel, 377 87. New York: Wiley.
ISO BURCHARD, JE. 1965. How humanists use a libra-ry. In Intrex : report of planning conference on information transfer experiments, Sept. 3, 1965. Cambridge, Mass.: M.I.T. Press, 1965.
Tesis/ Disertasi CBE Maguire, J. 1968. A taxonomic and ..... Ph.D. diss. University of California. Berkeley. 180 p.
Chicago Maguire, J. 1968. A taxonomic and ..... Ph.D. diss. University of California. Berkeley.
Turabian Maguire, J. 1968. A taxonomic and ..... Ph.D. diss. University of California.
Wilkinson Maguire, J. 1968. A taxonomic and ..... Ph.D. dis¬sertation, University of California.
Laporan CBE Cohen, B. G. F. 1984. Human aspects in office auto¬mation. Wisconsin : University of Wisconsin. 60 p.
Turabian Cohen, B. G. F. 1984. Human aspects in office auto¬mation. Wisconsin : University of Wisconsin.

Dari data-data tersebut di atas dapat diketahui bahwa perbedaan sistem penulisan referensi pada sistem Pengarang-Tahun dari 5 panduan tersebut terletak pada :
• Pembalikan nama pengarang. Penulisan nama pengarang pertama selalu dibalik sedangkan penulisan nama pengarang kedua dan seterusnya ada yang dibalik ada yang tidak.
• Penulisan nama pengarang. Ada yang menggunakan huruf kapital semua.
• Penggunaan singkatan untuk menyatakan halaman. Ada yang menggunakan singkatan pp. atau p.
• Pencantuman jumlah halaman untuk buku, prosi¬ding, disertasi dan laporan. Ada yang mencantumkan, dan ada yang tidak mencantumkan.
• Pemberian identifikasi khusus pada sebagian data bibliografi (judul buku, judul majalah, judul prosiding, judul lapor¬an). Ada yang mencetak dengan huruf miring, garis bawah, atau tanpa perlakuan khusus.
• Penggunaan tanda baca, misalnya sing¬katan nama pengarang dan judul majalah tidak perlu membubuhkan tanda baca titik, atau menghilangkan “and” untuk menyata¬kan adanya dua pengarang atau lebih.
• Urutan penempatan data bibliografi, misalnya pada referensi berbentuk prosiding.

Tabel 4
Penulisan Referensi pada Sistem Numerik

Kategori Pengarang Panduan Penulisan Referensi
Buku, 1 pengarang CBE Smith, John Q. Urban turmoil : The politics of hope. New City: Polis; 1986. 1223 p.
ISO CRANE, D. Invisible colleges. Chicago: Univ. of Chicago Press, 1972.
Buku, 2 Pengarang (nama disingkat) CBE Smith JQ, Galloway J. Peace in Ireland. Boston: Harper & Row; 1984. 324 p.
Buku, 3 pengarang (nama lengkap) CBE Smith, John G; Galloway, Joseph; Brown, James. Peace in Ireland. Boston: Harper & Row; 1984. 324 p.
Majalah,
1 pengarang CBE Jackson, Richard. Runing down the up escalator. Australian Geographer 1979 Nov 13; 14 (5): 175 84.
ISO STIEG, MF. The information needs of historians. College and Research Libraries, Nov. 1981, vol 42, no. 6, p. 549-560.
Majalah,
2 pengarang CBE Broom R, Robinson JT. Man contempora -neous with ape man. Am J Phys Anthrop 1980; 2: 36 74.
Prosiding,
1 pengarang CBE Chave, K. E. Skeletal durability and preservation. In: Imbrie J, Newel N, editor. Approaches to paleoecology; 1984 April 13 16; Hongkong. New York: Wiley; 1985. p. 377 87.
ISO BURCHARD, JE. How humanists use a libra-ry. In Intrex : report of planning conference on information transfer experiments, Sept. 3, 1965. Cambridge, Mass.: M.I.T. Press, 1965, p. 219.
Tesis/disertasi,
1 pengarang CBE Maguire, J. A taxonomic and ...…….. [dissertation]. Berkeley: University of California; 1968. 180 p.
Laporan,
1 pengarang CBE Cohen, B. G. F. Human aspects in office automation. Wiscon¬sin : University of Wisconsin; 1989. 60 p.

Dari data-data tersebut di atas dapat diketahui bahwa perbedaan sistem penulisan referensi pada sistem Numerik dari 5 panduan tersebut terletak pada :
• Perbedaan cara penulisan referensi antara sistem pengarang-tahun dan sistem numerik terletak pada penempatan tahun terbit dokumen. Pada sistem pengarang- tahun, tahun terbit ditulis setelah pengarang, sedangkan pada sistem numerik tahun terbit dokumen diletakkan di belakang setelah informasi judul dokumen.
• Tidak semua buku panduan membahas sistem numerik. CBE adalah salah satu panduan yang memuat sistem numerik secara lengkap beserta contoh, sedangkan pada ISO 690-1987 hanya memuat beberapa contoh saja. Perbedaan antara keduanya adalah:
- Penulisan nama pengarang. ISO menulis nama pengarang dengan huruf kapital semua.
- Pemberian identifikasi khusus pada sebagian data bibliografi. ISO memberi identifikasi dengan huruf miring.
- Penggunaan tanda baca dan singkatan misalnya pada data bibliografi majalah.

KESIMPULAN
Berdasarkan data tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa :
1. Secara umum ada beberapa sistem penulisan sitasi dan referensi, yaitu: Sistem Pengarang Tahun, Sistem Numerik, dan Sistem Catatan. Masing-masing sistem mempunyai ciri, kelebihan dan kelemahan.
2. Tata cara penulisan sitasi dan referensi yang termuat dalam suatu buku panduan yang satu belum tentu sama dengan buku panduan lainnya tergantung ciri khas masing-masing. Pada sitasi, perbedaan terletak pada penggunaan singkatan, simbol, istilah dan tanda baca. Pada daftar referensi, perbedaan terletak pada: penulisan nama pengarang, urutan/kelengkapan data bibliografi, pemberian tanda khusus pada sebagian data bibliografi, penggunaan singkatan dan tanda baca.
SARAN
1. Sebelum menulis karya ilmiah baik berupa buku, makalah, laporan penelitian, dan sejenisnya, pengarang hendaknya menetapkan salah satu sistem penulisan sitasi dan referensi yang akan digunakan, apakah sistem Numerik, sistem Pengarang-Tahun atau sistem Catatan. Pemilihan sistem disesuaikan dengan peruntukannya. Penulis hendaknya konsisten dengan satu sistem sehingga tidak mencampur adukkan antara sistem yang satu dengan sistem yang lain.
2. Penulis hendaknya menetapkan salah satu buku panduan yang akan digunakan, kecuali jika karya ilmiah dimaksudkan untuk dipublikasikan melalui media/ majalah tertentu yang telah mempunyai aturan tersendiri. Dalam hal ini, penulis dituntut untuk mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh media/majalah tersebut.
3. Untuk memudahkan penulis, instansi/lembaga hendaknya menetapkan panduan mana yang sebaiknya diikuti dan menyediakan buku panduannya di perpustakaan.



security code

Bottom of Form



Teknik Penulisan Daftar Pustaka
Kompilasi oleh Muliadi Nur
Sumber : http://muliadinur.wordpress.com

Secara umum daftar pustaka disusun secara alfabet berdasarkan nama akhir penulis setiap
buku. Data pustaka diketik dari margin kiri; jika lebih dari satu baris, maka baris kedua dan
seterusnya diketik satu spasi dengan jarak 1,2 cm dari margin kiri. Gelar dan titel akademik
tidak harus dicantumkan, baik dalam kepustakaan maupun dalam catatan kaki.
Contoh:
Agustian, Ary Ginanjar, ……………………
Gunawan, Adi W., ………………………….
Al‐Syafi’iy, Muhammad bin Idris, ……………………..
Al‐Zuhayliy, Wahbah, ……………………...
Nama penulis yang lebih dari satu kata
Nama penulis yang lebih dari satu kata, ditulis nama akhirnya diikuti dengan tanda koma,
kemudian nama depan yang diikuti nama tengah dan seterusnya,
Contoh:
Nama: Ary Ginanjar Agustian, ditulis: Agustian, Ary Ginanjar,
Nama: Adi W. Gunawan, ditulis, Gunawan, Adi W.,
Nama penulis yang menggunakan Alif lam ma’rifah (al‐)
Nama penulis yang menggunakan Alif lam ma’rifah (al‐), maka “al” pada nama akhirnya
tidak dihitung, yang dihitung adalah huruf sesudahnya, contoh: nama Muhammad ibn Idris
al‐Syafi’iy diletakkan dalam kelompok huruf S dan ditulis: Al‐Syafi’iy, Muhammad ibn Idris.
Nama penulis yang menggunakan singkatan
Nama penulis yang menggunakan singkatan, ditulis nama akhir yang diikuti tanda koma,
kemudian diikuti dengan nama depan lalu nama berikutnya,
Contoh:
Nama: William D. Ross Jr, ditulis: Ross, W. D. Jr.

UNSUR‐UNSUR YANG HARUS DIMUAT DALAM KEPUSTAKAAN:
a. Nama penulis yang disesuaikan dengan sistem penulisan katalog dalam
perpustakaan, contoh: seperti pada poin 2 di atas.
b. Judul buku (dengan huruf italic) sebagaimana yang tercantum pada sampul buku
atau pada halaman judul buku, kemudian diikuti dengan jilidnya (kalau ada).
c. Data penerbitan, yaitu cetakan atau edisi, tempat penerbit, nama penerbit dan
tahun terbitnya. Jika data penerbitan tidak ada atau salah satu datanya tidak ada,
maka digunakan singkatan berikut:
[t.d.] jika sama sekali tidak ada data yang tercantum;
[t.t.] jika tempat penerbitan tidak ada;
[t.p.] jika nama penerbit tidak ada;
[t.th.] jika tahun penerbitan tidak ada.
UNTUK REFERENSI DARI SURAT KABAR ATAU MAJALAH
Unsur‐unsur yang perlu dicantumkan untuk referensi dari surat kabar atau majalah adalah:
1. Nama Pengarang (jika ada);
2. Untuk artikel yang tidak disertai nama pengarang (anonim) maka dicantumkan Judul
Artikel dalam tanda kutip, yang diikuti dengan keterangan dalam kurung siku ([])
tentang jenis tulisan seperti berita atau tajuk;
3. Nama Surat Kabar/Majalah (dengan huruf italic); dan
4. Data Penerbitan, yakni: nomor, bulan dan tahun, kemudian halaman‐halaman di
mana artikel itu dimuat.
Contohnya:
Suryohadiprojo, Sayidman. “Tantangan Mengatasi Berbagai
Kesenjangan.” Republika, No. 342/II, 21 Desember 1994, h. 6‐8
“PWI Berlakukan Aturan Baru.” [Berita]. Republika, No. 346/II, 28
Desember 1994, h. 16.
Sanusi, Bachrawi. “Ketimpangan Pertumbuhan Ekonomi.” Panji
Masyarakat, No. 808, 1‐10 Nopember 1994, h. 30‐31 dan 45.

ARTIKEL DAN ENSIKLOPEDIA
Unsur referensi esiklopedia yang perlu dicantumkan adalah:
1. Nama Penyusun Artikel,
2. Judul Artikel dalam tanda kutip,
3. Nama Editor Ensiklopedia (kalau ada),
4. Judul Ensiklopedia (dengan huruf italic),
5. Jilid,
6. Data Penerbitan, dan
7. Halaman yang memuat artikel itu.
Contohnya:
Edgel, Beatrice. “Conception.” Dalam James Hastings (ed.) Encyclopedia of Religion
and Ethics. Jilid 3. New York: Charles Schribner’s Son, 1979, h. 796‐797.

REFERENSI PERUNDANG‐UNDANGAN
Penerbitan yang dapat dijadikan sebagai referensi kepustakaan adalah naskah resmi yang
diterbitkan oleh lembaga pemerintahan himpunan peraturan perundang‐undangan yang
diterbitkan secara khusus. Dalam hal ini dicantumkan:
1. Nama Lembaga Pemerintahan yang berwenang mengeluarkan peraturan
bersangkutan,
2. Judul undang‐undang atau peraturan dan materinya,
3. Data Penerbitan.
Contohnya:
Republik Indonesia. Undang‐Undang Dasar 1945.
Republik Indonesia. “Undang‐undang RI Nomor I Tahun 1985 tentang Perubahan
atas Undang‐Undang Nomor 15 Tahun 1969.” Dalam Undang‐Undang
Keormasan (Parpol & Golkar) 1985. Jakarta: Dharma Bakti, t.th.
Referensi seperti tersebut dalam contoh kedua di atas tidak dapat dipakai
terutama untuk penulisan tesis/disertasi karena merupakan sumber sekunder.

SUMBER‐SUMBER YANG TIDAK DITERBITKAN
Untuk sumber‐sumber yang tidak diterbitkan, misalnya tesis magister, atau disertasi doktor,
maka unsur‐unsur yang perlu dicantumkan adalah:
1. Nama Penyusun,
2. Judul (dalam tanda petik), kemudian
3. Keterangan menganai disertasi, tempat dipertahankannya, dan tahunnya.
Contohnya:
Halim, H. M. Arief. “Konsep Metode Dakwah dalam Al‐Qur’an.” Tesis. Ujung
Pandang: Program Pascasarjana IAIN Alauddin, 1993.
Salim, Abdul Muin. “Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al‐Qur’an.” Disertasi.
Jakarta: Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, 1989.

PUSTAKA DISUSUN OLEH DUA ATAU TIGA ORANG
Jika pustaka disusun oleh dua atau tiga orang, maka semua nama pengarang disebutkan
secara lengkap, kecuali nama penyusun yang pertama disebut sesuai ketentuan di atas.
Nama penyusun kedua dan ketiga ditulis seperti biasa. Jika penyusun lebih dari tiga orang,
maka hanya nama penyusun pertama saja yang disebutkan sesuai ketentuan di atas, diikuti
oleh istilah et al. (kata et bukan singkatan, jadi tidak pakai titik, sedang al. adalah singkatan
dari alii). Arti istilah et alii adalah “dan kawan‐kawan.”
Contohnya:
Al‐Sayutiy, Jalal al‐Din ibn ‘Abd al‐Rahman ibn Abi Bakr, dan Jalal al‐Din
Muhammad ibn Ahmad al‐Mahalliy. Tafsir al‐Qur’an al‐‘Azim. Juz I.
Beirut: Dar al‐Fikr, 1401 H/1981 M.
Benjamin, Roger W., et al. Patterns of Political Development: Japan, India, Israel.
New York: David McKay, 1972.
Sumber kedua di atas (Benjamin, Roger W., et al.) disusun oleh empat orang.
Tiga penulis lainnya adalah Allan Adrian, Richard N. Blue, Stephen Coleman, yang
telah diwakili oleh kata et al.

UNTUK BUKU TERJEMAHAN
Untuk buku terjemahan, unsur‐unsur yang perlu dicantumkan adalah:
1. Nama Pengarang Buku Asli,
2. Judul Buku Asli (Italic), diikuti kata‐kata: diterjemahkan oleh, yang langsung diikuti
oleh Nama Penerjemah, kemudian diikuti dengan kalimat: dengan judul, yang
langsung diikuti oleh judul terjemahan (italic), dan
3. Data Penerbitan.
Note: Kalau buku terjemahan itu tidak diketahui judul aslinya, maka setelah nama
pengarang, disebutkan judul terjemahannya, diikuti kata‐kata: diterjemahkan oleh, lalu
nama penerjemah, tanpa menyebutkan lagi judul terjemahannya, karena telah disebut
sebelumnya.
Contohnya:
Al‐Zuhayliy, Wahbah. Al‐Qur’an al‐Karim, Bunyatuh al‐Tasyri’iyyah wa Khasa’isuh
al‐Hadariyyah. Diterjemahkan oleh Mohammad Lukman Hakiem dan
Muhammad Fuad Hariri dengan judul Al‐Qur’an: Paradigma Hukum dan
Peradaban. Surabaya: Risalah Gusti, 1996.
Jika tidak diketahui judul aslinya:
Al‐Zuhayliy, Wahbah. Al‐Qur’an al‐Karim, Bunyatuh al‐Tasyri’iyyah wa Khasa’isuh
al‐Hadariyyah. Diterjemahkan oleh Mohammad Lukman Hakiem dan
Muhammad Fuad Hariri. Surabaya: Risalah Gusti, 1996.

SEORANG PENGARANG YANG MEMPUNYAI DUA BUKU ATAU LEBIH
Nama seorang pengarang yang mempunyai dua buku atau lebih yang digunakan dalam
penulisan, disebutkan lengkap hanya sekali. Untuk bukunya yang kedua dan seterusnya,
namanya diganti dengan garis sepanjang tujuh ketukan diikuti oleh titik, diikuti nama
bukunya (italic), jilidnya (kalau ada), kumudian data penerbitannya.
Contohnya:
Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia, 1900‐1942. Cet. II; Jakarta: LP3ES,
1982.
______, Pemikiran Politik di Negeri Barat. Jakarta: Rajawali, 1982.

PUSTAKA YANG MENUMPANG PADA BUKU LAIN
Jika pustaka yang dipakai menumpang pada buku lain (sebagai hamisy), maka unsur yang
perlu dicantumkan adalah:
1. Nama Pengarang Buku yang Menumpang,
2. Lalu Nama Bukunya (italic), diikuti dengan kata “Dalam” lalu nama pengarang buku
yang ditumpangi, kemudian nama bukunya (italic),
3. Jilid (kalau ada), kemudian
4. Data Penerbitannya.
Contohnya:
Al‐Sayutiy, Jalal al‐Din. Lubab al‐Nuqul fi Asbab al‐Nuzul. Dalam al‐Sayutiy, Jalal al‐
Din ibn Abd Rahman ibn Abu Bakr, dan Jalal al‐Din Muhammad ibn
Ahmad al‐Mahalliy. Tafsir al‐Qur’an al‐‘Azim. Juz I. Beirut: Dar al‐Fikr,
1401 H.

Daftar Pustaka untuk Parenthetical Reference
Daftar Pustaka untuk Parenthetical Reference, disebut Reference List. Salah satu
penyusunannya yang mudah adalah sebagai berikut:
1. Nama Pengarang,
2. Tahun Terbit,
3. Judul Buku Referensi (huruf italic),
4. Juz,
5. Tempat Penerbit,
6. Nama Penerbit.
Contoh Pertama:
Al‐Zuhayliy, Wahbah. 1991. Al‐Tafsir al‐Munir fi al‐Aqidat wa al‐Syari’at wa al‐
Manhaj, juz. 11. Beirut: Dar al‐Fikr al‐Mu’asir.
Sanusi, Bachrawi. 1994. “Ketimpangan Pertumbuhan Ekonomi.” Panji Masyarakat,
No. 808, h. 30, 31, dan 45.
Edgel, Beatrice. 1979. “Conception.” Dalam James Hastings (ed.) Encyclopedia of
Religion and Ethics, Jilid 3. New York: Charles Shcribner’s Son, h. 796‐797.
Teknik Penulisan Daftar Pustaka http://muliadinur.wordpress.com | 7
Contoh pertama ini berbeda dari Daftar Pustaka biasa karena tahun
penerbitan diletakkan persis setelah nama pengarang. Ini memudahkan
pengetikannya. Dalam Daftar Pustaka biasa, tahun diletakkannya sesudah nama
penerbit.
Contoh Kedua
Cara lain adalah menulis nama pengarang dalam satu baris sendiri. Tahun penerbitan ditulis
di baris berikutnya, marginnya sejajar dengan awal nama pengarang. Judul karya ditulis lima
belas ketukan dari margin kiri, diikuti oleh data penerbitan. Baris kedua dari judul dan data
penerbitan, marginnya juga lima belas ketukan dari kiri.
Contoh Kedua:
Al‐Zuhayliy, Wahbah.
1991. Tafsir al‐Munir fi al‐Aqidat wa al‐Syari’at wa al‐Manhaj, juz. 11.
Beirut: Dar al‐Fikr al‐Mu’asir.
Sanusi, Bachrawi.
1994. “Ketimpangan Pertumbuhan Ekonomi.” Panji Masyarakat, No. 808, h.
30, 31, dan 45.
Edgel, Beatrice.
1979 “Conception.” Dalam James Hastings (ed.) Encyclopedia of Religion
and Ethics, Jilid 3. New York: Charles Shcribner’s Son, h. 796‐797.
Penggunaan Reference List seperti yang dicontohkan di atas harus konsisten,
apakah mau menggunakan contoh pertama ataukah contoh kedua.

0 komentar:

Poskan Komentar